Bank Plecet Tumbuh Subur di Wonogiri

Bank Plecet Tumbuh Subur di Wonogiri
warung anti plecet

WONOGIRI, TABLOIDKONTRAS.com –  Maraknya lembaga keuangan yang mengatasnamakan koperasi simpan pinjam menjaring nasabah hingga ke pelosok – pelosok kampung terasa sangat membuat resah masyarakat. Pasalnya, petugas koperasi yang menawarkan pinjaman uang seperti rentenir mulai angsuran perminggu, hari pasaran (jawa), dua mingguan sampai setoran perbulan dengan proses yang mudah dan tanpa berbelit-belit mengakibatkan masyarakat banyak yang terlilit oleh hutang.

Dari pantauan dan berbagai sumber yang dihimpun Kontras  dilapangan menyebutkan, begitu mudahnya persyaratan pinjam mulai agunan foto copy KTP, KK, Surat Nikah, Akte Kelahiran, BPKB hingga Sertifikat tanah membuat masyarakat tergiur untuk mengajukan kredit  sampai tak terkontrol mengakibatkan masyarakat terperosok ke dalam jurang lembah hutang.

Kian hari tumpukan hutang yang belum dapat diangsur menjadikan tumpukan denda dan bunga yang berlipat – lipat tanpa disadari oleh nasabah sampai menimbulkan dampak rumah tangga berantakan, kacau bahkan sampai akhirnya berakibat fatal perceraian dalam rumah tangga akibat ekonomi yang morat – marit.

Salah satu korban dari koperasi mingguan, Nofi warga Wonokerto sampai berani menggadaikan unit mobil  milik orang lain  tanpa sepengetahuan si pemilik kendaraan, akibat dari kejadian yang dilakukan oleh Nofi hingga akhirnya diadukan ke pihak Polisi  dengan alasan penggelapan, ujar Bonal Kanitreskrim Polsek kota beberapa waktu lalu.

Dengan kejadian tersebut, Nofi dan Suaminya Gono serta teman satunya bernama Fitri sempat ditahan dikantor Polsek Wonogiri kota, (24/10).

Sementara seorang penggiat anti RIBA Sugiarno atau biasa dipanggil Nano warga Slogohimo menyayangkan lemahnya badan pengawas  baik di instansi pemerintah maupun lembaga swasta yang berkompeten mengawasi kinerja sebuah lembaga keuangan yang komersil karena kebanyakan koperasi yang berpraktek rentenir menjerat nasabah tersebut belum sesuai ketentuan dan aturan  otoritas jasa keuangan (OJK) bahkan masih banyak yang lembaganya belum didaftarkan, terangnya

Adanya praktek dan operasi lembaga keuangan menjadi lahan subur dalam menjerat mangsa/nasabah, pasalnya dengan mudah masyarakat terbuai mengajukan kredit ke koperasi lantaran proses yang mudah dan tanpa berbelit – belit.

Seperti nasabah secara berkelompok minimal 5 orang dapat dikucurkan pinjaman sebesar 10 juta dengan hanya sebuah foto copy KTP sebagai persyaratan dan masing – masing anggota mendapatkan 2 juta dengan sistem angsuran setiap minggu sesuai hari yang disepakati oleh kelompok.

Sisi pengawasan yang sangat lemah berdampak pada masyarakat ekonomi kecil yang menjadi korban dari koperasi yang berpraktek rentenir. Masyarakat berharap dengan maraknya koperasi yang berpraktek rentenir semestinya pihak dinas terkait dapat mengambil tindakan terhadap beropersionalnya koperasi – koperasi tersebut, harap masyarakat secara luas.

Sementara Warung yang terletak di belakang Kabupaten Wonogiri  pemilik warung bernama Banon ketika ditanya Kontras apa pernah di tawari pinjaman  dari plecet.Banon menjawab seumpama saya ditawari piinjaman pasti saya tolak,selain bunganya besar setiap hari saya harus menyiapkan angsuran terang Banon kepada Kontras

 

[ wwk ]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses