Santunan Yatim Piatu, Warnai Tahlil Tujuh Hari Wafatnya HE Mr Prof. Dr. Djuyoto Suntani

Santunan Yatim Piatu, Warnai Tahlil Tujuh Hari Wafatnya HE Mr Prof. Dr. Djuyoto Suntani
Astrid S Suntani ( nomor 5 dari kiri ), ketika foto bersama pengasuh dan anak Yatim Piatu, seusai menjalankan ritual Tahlil, mendoakan suaminya HE Mr Prof Dr H Djuyoto Suntani

SEMARANG, TABLOIDKONTRAS.com – Dalam acara peringatan tujuh hari meninggalnya, HE Mr Prof. Dr. Djuyoto Suntani, Presiden Komite Perdamaian Dunia 202 Negara yang di gelar pada Sabtu (23/1), di Pondok Pesantren Tahfidhil Qur’an Angudhi Barokahe Gusti, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tidak seperti biasanya. “Dalam prosesi ritual doa tahlil itu, kami juga memberikan santunan kepada para anak Yatim Piatu disana” ujar  Astrid S Suntani, Istri dan Wakil Presiden Indonesia World Peace Committee

Hal itu dilakukan, karena selain yang menjalankan prosesi ritual Tahlil (doa) bersama anak yatim piatu, juga Astrid ingin berbagi kepada sejumlah anak Yatim Piatu di Pondok Pesantren tersebut. Menurut Astrid doa anak Yatim Piatu itu diyakini bakal dikabulkan Allah SWT, untuk itulah tidak ada salah bila dia juga berhak menyantuni mereka. “ Dengan doa yang dipanjatkan bersama anak yatim piatu, Insya Allah almarhum HE Mr Prof Dr H Djuyoto Suntani Husnul Khotimah, di terima Allah SWT semua amal baiknya, dengan damai dan bahagia di surgaNya, Aamiin” harapnya

Dalam Tahlil bersama anak yatim tersebut juga disiarkan secara langsung melalu online/zoom meeting, juga di hadiri anggota Perwakilan World Peace committee di seluruh dunia di 202 negara. Seperti diberitakan sebelumnya, Prof Dr Djuyoto meninggal pada, Senin (18/1) RS Abdi Waluyo, Jakarta, pukul 09.45 WIB dengan usia 58 tahun. Karena sesuai hasil laboratorium terjangkit penyakit tifus dan memiliki riwayat penyakit jantung. “Beliau meninggal terhitung 10 hari, sejak mulai merasa badannya sakit, pusing dan panas” tutur Astrid

Menurut Astrid, suaminya merupakan sosok orang yang kuat, tangguh dan tidak ingin terlalu merasakan sakit yang dideritanya. Jadi pada awal , sebelum diketahui tentang penyakitnya, dia tidak mau di bawa ke rumah sakit untuk berobat. Sehingga hanya memanggil dokter pribadi kerumahnya untuk merawatnya. Namun Djuyoto itu juga sosok yang sangat sulit mau minum obat. “Kalau toh mau minum obat harus sesuai dengan kemauannya sendiri, tidak mau kalau saya suruh dan saya hanya bisa mengingatkan saja, pada saat kalau sudah waktunya minum obat.” terangnya

Untung saja Astrid ini termasuk tipe orang yang sabar, sehingga rela menunggu, sampai suaminya ingin minum obatnya sendiri. Dengan kesabaran dan ketabahannya, Astrid selalu mendampinginya, sehingga mereka merupakan pasangan yang harmonis, sebelum meninggal dan selama sakit hanya Astrid yang mendampingi serta merawatnya. “Namun berhubung penyakitnya mulai mengkhawatirkan, maka juga saya yang membawanya ke rumah sakit dan akhirnya meninggal di rumah sakit tersebut”  pungkasnya.

 

(Hong)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan