SEHAN: Pemimpin Jangan Apatisme dan Miskin Inovasi. Jika Dipercayakan Rakyat Sektor Pertanian Jadi Prioritas.

SEHAN: Pemimpin Jangan Apatisme dan Miskin Inovasi. Jika Dipercayakan Rakyat Sektor Pertanian Jadi Prioritas.
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut Nomor Urut Satu (1) CEP-SEHAN. Yang di Usung Partai Golkar, PAN, Demokrat.

MANADO,TABLOIDKONTRAS.Com – Anjloknya harga komoditi unggulan sulawesi utara, Seperti Cengkih di akibatkan pengaruh pasar global, hal ini seyogianya memberikan kemunduran dan kerugian besar bagi para petani yang bergerak di sektor pertanian.

Untuk mendongkrak harga komoditi kembali ke posisi ideal. Tentunya membutuhkan satu pemimpin yang tidak hanya menambah pundi pundi kekayaan dan membodohi rakyatnya, melainkan mampu berfikir bagaimana nasib rakyat ( Petani ) tidak di perhadapkan pada kesulitan yang dapat mempengaruhi pendapatan ekonomi mereka dengan menyiapkan solusi untuk keberlangsungan hasil panen.

Pasangan Calon Gubernur Cristiany Eugenia Paruntu dan Wakil Gubernur Sehan Salim Landjar ( CEP-SEHAN ) Ketika di Wawancarai oleh Wartawan Usai selesai mengikuti Debat publik ke III yang di selenggarakan oleh KPU Selasa (27/20), Mengatakan, Memang ada yang menyampaikan bahwa harga komoditi lokal dipengaruhi mekanisme pasar global dan itu menjadi penyebabnya. Menurut emat kami menilai hal itu wujud apatisme yang miskin inovasi.

” Saya pikir menjadi pemimpin tidak boleh apatisme dan miskin inovasi. Sebab, jika ada kemauan dan Keinginan untuk mengembalikan ke posisi ideal, rasanya tidak ada yang sulit. Yang sulit itu apabila tidak memiliki tekad dan kemauan yang kuat untuk mencari solusinya. Maka tidak boleh miskin inovasi ” Tukas Calon Wakil Gubernur Sehan Salim Landjar Menjawab pertanyaan Wartawan.

Lanjut Sehan, Semua produk pertanian bersifat unggulan sepanjang ada inovasi dan kreasi dari hulu sampai hilir. Misalnya pengembangan pasar, manajemen gudang, intervensi pemerintah berupa payung hukum dan kecekatan menciptakan daya saing komoditi,Termasuk membentuk BUMD sebagai penopang yang kuat jikalau kondisi harga tidak stabil.

” Menjadi pemimpin jangan hanya pasrah pada kondisi yang ada, Tetapi harus Mampu memberikan inovasi, seperti apa yang harus disiapkan dan apa solusi yang harus diberikan,” Kata Sehan

Masih Sehan menyampaikan, pengalaman dirinya mengintervensi harga komoditi yang sempat jongkok di masa lalu. Bersama Pak Fadel Muhamad membentuk BUMD di Gorontalo saat harga jagung terjun bebas. Dan kami menyelamatkan itu dengan BUMD. Ada mekanisme resi gudang untuk petani. Kerjasama dengan bank daerah. Ini soal komitmen dan kemauan. Kita bisa membentuk BUMD dengan kebijakan penyertaan modal untuk melindungi nilai tukar petani. Itu baru salah satu cara atau solusi yang bisa menutupi dan menyelesaikan masalah,” ungkap Sehan.

Mestinya Ujar Sehan, Pemimpin yang fokus pada sektor pertanian mampu menciptakan kompetisi di tingkat investor. Artinya, menarik beragam investor yang tidak semata melirik komoditi untuk tujuan yang sama. Tetapi bagaimana mencari dan melobi investor yang membidik komoditi sebagai bahan baku produk yang lain. Pungkas Calon Wakil Gubernur Sehan Salim Landjar ( SSL)

Seraya menambahkan, Bahwa Komitmen CEP-SEHAN tetap satu menaikan harga komoditas unggulan yaitu cengkeh, pala, kopra, yang merupakan kebanggaan rakyat Sulut.

Ingat,,Sepanjang sejarah nyiur melambai sebagai ikon yang diabadikan pada lambang daerah, Maka hal ini harus di pertahankan oleh pemerintah jika kami terpilih, sebagai gubernur dan wakil gubernur sulut.” Ketus Pria yang  dikenal sangat merakyat ini.

Perlu di ketahui harga komoditi Cengkih memang sangat jauh berbeda di masa kepemimpinan SHS sebagai Gubernur sulawesi utara bila di bandingkan dimasa kepemimpinan gubernur saat ini.

Dimasa Sinyo Harry Sarundjang ( SHS ) sebagai gubernur Sulut yang di usung oleh partai demokrat saat itu, harga cengkih tembus hingga 151 ribu per kilo dan ekonomi para petani meningkat begitu pesat.

Menariknya dimasa Kepemimpinan sekarang, kondisi harga Cengkih hanya bertahan pada angka Rp 53 ribu per kilogram. Inilah yang menjadi keluhan petani cengkih di musin pandemi saat ini. “Biaya pengurusan begitu besar, namun nilai harga belinya begitu rendah”.

 

(fik/Lk)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan