Totok Martono, Pesulap Limbah Kertas Menjadi Kerajinan Bernilai Seni.

Totok Martono, Pesulap Limbah Kertas Menjadi Kerajinan Bernilai Seni.
Totok Martono, diantara berbagai kerajian hasil pengembangan kreatifitas dan inovasi yang bernilai seni

LAMONGAN, TABLOIDKONTRAS.com – Dalam kondisi ekonomi bangsa yang terpuruk seperti saat ini, orang di tuntut untuk berani berinovasi mengembangkan kreatifitasnya dalam menciptakan penghasilan yang memedahi untuk menunjang berlangsungnya roda kehidupannya. Seperti halnya dengan Totok Martano, warga Moropelang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini, telah berkreasi dengan memanfaatkan  sampah kertas yang selama ini dianggap tak bernilai, ternyata ditangannya bisa disulap menjadi kerajinan yang eksotik.

Diantara tumpukkan kertas bekas , seperti Koran dan kertas-kertas lainnya yang semula dianggap tidak bermanfaat, di tangan Totok kini barang-barang kerajinan itu, terlihat sangat apik dan menarik untuk di pajang, menghiasi rumah-rumah di berbagai daerah di nusantara ini. Penciptanya tidak lain sesosok lelaki nyentrik, bertubuh kerempeng yang nampak sibuk memilah-milah tumpukkan kertas bekas, merendam air dan menjemurnya di terik matahari, kemudian di proses membentuk berbagai hiasan. Contohnya Guci, lampu hias, tempat duduk dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu disini.

Dalam kegiatannya yang dilakukan dirumahnya itu, nama Totok menjadi mudah di kenal sebagai  Perajin yang mengolah limbah kertas menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual. Dengan daya, cipta, dan kreatifitasnya, pria berkacamata minus itu mampu mengolah sampah kertas itu menjadi beraneka jenis kerajinan. Pantas saja, beraneka barang seni., seperti guci, lampu hias, lampu dinding, hiasan dinding, dan beraneka bentuk kerajinan lain, memenuhi teras rumahnya.

Barang-barang kerajinan itu beraneka warna. Sebagian besar berwarna cerah. Namun sebagian yang lain  masih dalam bentuk setengah jadi, atau belum tersentuh pewarna. Sekilas kerajinan yang di buat Totok  tersebut berbahan baku keramik maupun tanah liat, karena secara bentuk yang seperti keaslian Guci buatan China. “Namun kerajinan ini anti pecah, meski jatuh atau terguling, bahkan dibanting sekalipun tidak akan pecah,” kata Totok

Kemampuan Totok mengkreasikan kertas bekas menjadi beraneka jenis barang seni diperoleh secara otodidak. Semua dilakukan atas keinginannya untuk berkreasi dan menciptakan sesuatu yang inovasi, karena di zaman ini setiap orang seolah dituntut untuk madiri dalam berbagai hal. Jadi, tidak ada guru. Tidak ada contoh, hanya bermodalkan ketelatenan. Lambat laun hasil kerajinan Totok banyak peminatnya. Bukan saja karena bahannya dari  kertas bekas, namun juga karena Ia sanggup melayani segala bentuk pesanan. Untuk guci misalnya, selain pemesan bisa menentukan ukuran, juga bisa meminta gambar yang diinginkan.

 

(Hong)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan