Madam Astrid : Wasiat Dr. Djuyoto Suntani Mewujudkan Pusat Bumi Di Jateng

Madam Astrid : Wasiat Dr. Djuyoto Suntani Mewujudkan Pusat Bumi Di Jateng
Kenangan keharmonisan Dr Djuyoto Suntani dengan isterinya HE Madam Astrid.

SOLO, TABLOIDKONTRAS.comSebagai isteri setia, HE Madam Astrid S Suntani yang selalu mendapingi dalam keadaan suka dan duka suaminya, mendiang HE Prof. Dr. Djuyoto Suntani,  Presiden Komite Perdamaian Dunia 202 Negara, maka dia selalu siaga dan terus berjuang untuk mewujudkan wasiat dari mimpi Dr Djuyoto yang sampai meninggalnya belum terealisasi.  “Sebelum meninggal, kata Astrid, beliau berpesan agar saya, tetap mengawal seluruh pekerjaan World Peace Committee sekaligus merubah mimpi dan cita-citanya menjadi realita, untuk mewujudkan pusat bumi yang akan di bangun di Jawa Tengah” ujar Astrid kepada TABLOIDKONTRAS.com. Sabtu (23/1) melaui pesan Washapp

Dimana pusat bumi tersebut sebagai simbol terwujudnya peradaban baru dengan hati yang baik. Lebih jauh Astrid, selaku Indonesia world peace committee mengisahkan, kronologis kejadian sebelum mendiang suaminya meninggalkannya untuk selam-lamanya, yakni Djuyoto meninggal, karena sesuai hasil laboratorium terjangkit penyakit tifus dan memiliki riwayat penyakit jantung.  Djuyoto meninggal pada hari, Senin tanggal 18 Januari 2021 di RS Abdi Waluyo, Jakarta, pada pukul 09.45 WIB dengan usia 58 tahun. “Beliau meninggal terhitung 10 hari, sejak mulai merasa badannya sakit, pusing dan panas” tutur Astrid

Hanya saja Djuyoto, menurut Astrid, merupakan sosok orang yang kuat, tangguh dan tidak ingin terlalu merasakan sakit yang dideritanya. Jadi pada awal , sebelum diketahui tentang penyakitnya, dia tidak mau dibawa ke rumah sakit untuk berobat. Sehingga hanya memanggil dokter pribadi kerumahnya untuk merawatnya. Namun Djuyoto itu juga sosok yang sangat sulit mau minum obat. “Kalau toh mau minum obat harus sesuai dengan kemauannya sendiri, tidak mau kalau saya suruh dan saya hanya bisa mengingatkan saja, pada saat kalau sudah waktunya minum obat.” terangnya

Untung saja Astrid ini termasuk tipe orang yang sabar, sehingga rela menunggu, sampai suaminya ingin minum obatnya sendiri. Dengan kesabaran dan ketabahannya, Astrid selalu mendampinginya, sehingga mereka merupakan pasangan yang harmonis, sebelum meninggal dan selama sakit hanya Astrid yang mendapingi serta merawatnya. “Namun berhubung penyakitnya mulai mengkhawatirkan, maka juga saya yang membawanya ke rumah sakit dan akhirnya meninggal di rumah sakit”  pungkasnya.

 

(Hong)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan